Andaikan Otak Dijual, Maka Otak Orang Indonesia Yang Paling Mahal. Inilah Penjelasannya

Andaikan Otak Dijual, Maka Otak Orang Indonesia Yang Paling Mahal. Inilah Penjelasannya


Yoi sahabat, saudara semuanya. Di malam Sabtu ini admin akan menjelaskan sedikit mengenai arti dari "Andaikan Otak Dijual, Maka Otak Orang Indonesia Yang Paling Mahal". Mungkin kalian pada bingung semua kan? Nampaknya kalian lebih giat baca buku lagi deh.

Kita lanjut ke topik pembahasan. Sepertinya, apa yang membuat suatu barang menjadi mahal? Kita bandingkan barang baru dan barang bekas. Barang baru tentunya baru, dan barang bekas ini digolongkan dalam dua kategori yaitu barang bekas yang kusam alias sudah tidak kelihatan baik karena sering dipakai dan barang bekas yang terlihat masih baru karena sang pemilik jarang memakainya.

Barang baru tentu harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan barang bekas. Lalu apa yang menyebabkan otak orang Indonesia lebih mahal? Apakah karena terlalu pintar atau mungkin ada faktor lain? Jika kalian menganggap mahal karenae terlalu pintar itu hanya presepsi minoritas sebab Indonesia sistem pendidikannya masih kurang bagus dan orang pintar di Indonesia hanya secuil saja.

Di sini kita hanya mengandaikan jika otak bisa dijual bukan dijual beneran ya! Sesuatu dikatakan bagus, jelek, mahal, murah dan lain-lain jika hal tersebut memiliki pembanding. Contohnya sebuah mistar A yang memiliki panjang 30 cm, apakah ini bisa dikatakan pendek atau panjang? Orang-orang IQ jongkok akan mengatakan panjang dan lainnya akan mengakatan pendek. Itu salah! Kan belum ada pembanding? Nah, coba kita berikan mistar A ini pasangan sebagai pembanding untuknya yaitu mistar B. Mistar A memiliki panjang 30 cm dan mistar B punya panjang 25 cm. Mana yang panjang dan mana yang pendek? Sekarang sudah kelihatan mana yang pendek dan mana yang panjang, karena sudah ada pembanding. Kalian jawab sendiri saja ya! Hehehehe

Lalu kita coba bandingkan otak orang Indonesia dan otak orang Barat. Masing-masing memiliki budaya tersendiri. Orang Indonesia lebih mengutamakan kelompok atau kebersamaan dan orang Barat lebih mengutamakan diri sendiri atau sifatnya individualis. Coba kita lihat budaya orang Indonesia. Misalnya si Kampret, anggota geng bacot di hajar oleh si Mpuss. Nah otomatis si Kampret mengadu ke teman gengnya. Akhirnya semua anggota geng pergi menghajar si Mpuss. Berdasarkan ilustrasi tadi, orang Indonesia lebih mengandalkan kelompoknya. Beda lagi dengan orang Barat, jika ada orang yang melakukan kejahatan terhadapnya kebanyakan mereka sendirilah yang melawannya apabila tidak mampu baru menghubungi pihak kepolisian terdekat.

Budaya individualis mendorong orang lebih giat berusaha dan belajar lagi. Sedangkan budaya kebersamaan akan membuat orang malas, dan selalu berharap pada kelompoknya itu. Sikap individualis terkenal akan atmosfer persaingannya yang sangat ketat sehingga lebih cepat akan mengalami kemajuan dan kemakmuran. Sikap individualis ini, tidak bisa menerima informasi secara mentah-mentah bahkan hasutan yang berbau kelompok pun tidak akan dihiraukannya. "Ngapain ikut demo, kan bukan masalah saya itupun kita sudah makmur. Bodoamat 😂".

Orang Indonesia beda cerita lagi. Walaupun cuma satu anggota kelompok mereka yang kena tampol yah otomatis semuanya mengamuk. Padahal kan yang ditampol itu cuma satu. Nah ini sisi baiknya ialah rasa solidaritas yang tinggi pada orang Indonesia. Namun karena hal inilah banyak muncul kelemahan, contohnya mudah terkena hasut yang sebenarnya adalah kebohongan. Yang penting dari akibat ini ialah mudah terpengaruh terhadap godaan luar.

Bisa dibilang bahwa otak orang Barat ini harganya tidak semahal otaknya orang Indonesia. Otak orang Barat sendiri sudah penuh dengan ilmu karena terus berpikir jadi jika diibaratkan dengan kebendaan, maka benda itu sudah rongsokan karena sering dipakai oleh pemiliknya lalu jika diibaratkan lagi dengan sebuah memory card, kapasitasnya sudah penuh jadi untuk apa dibeli? Kemudian, orang Barat sangat sulit untuk diberi pengaruh apalagi yang namanya politik uang, hmm jangan. Mereka tidak akan mau dibayar karena budaya politik yang mereka miliki sudah mapan.


Beralih ke otak orang Indonesia. Kita tahu sendiri kan, bahwa orang Indonesia ini mudah di adu domba, dihasut, dipengaruhi , diperalat dan lain sebagainya oleh orang lain bahkan sesamanya orang Indonesia. Tidak akan lama lagi diadakan pemilihan presiden RI yang baru, akan ada yang namanya kubu-kubu di dalam kehidupan masyarakat. Apa manfaatnya membuat kubu seperti itu? Tidak ada manfaatnya malah akan memecahkan persatuan yang selama ini dibangun oleh pahlawan kita. Jika kalian menghargai pahlawan janganlah lakukan hal seperti itu. Lebih baik golput saja kayak asisten admin yaitu si Vian 😂.

Lalu kita lihat lagi mengenai orang Indonesia ini. Salah satu hal yang paling umum di kalangan masyarakat itu adalah mata duitan. Orang Indonesia bisa dikendalikan oleh kertas lho? Yakin? Yakinlah! Sebab dengan diberikannya uang, maka apapun yang disuruhkan oleh si pemberi uang itulah yang dia lakukan jadi dengan kata lain mudah diperalat atau kata kasarnya DIPERBUDAK 😂. Misalnya pemilihan anggota DPRD, si Lontong disogok oleh si Kampret yang merupakan caleg. Si Kampret mengatakan bahwa "Saya berikan uang ini dengan catatan anda harus memilih saya di pemilu nanti" dan si Lontong mengatakan "Ya siap bosku" akhirnya Si Lontong memilih Kampret di pemilu. Dalam hal ini si Lontong ternyata sudah terjerumus ke dalam politik uang. Andaikan si Lontong adalah admin ini, admin akan menerima uangnya tapi tidak akan memilihnya di pemilu nanti. Kalau bisa dilaporkan saja, jangan takut. Pelapor biasanya dirahasiakan identitas dirinya. Biar kapok tuh orang 😂.

Yang terpenting orang Indonesia mudah dipengaruhi atau dimanipulasi pola pikirnya. Ini diakibatkan oleh minimnya pendidikan politik di Indonesia. Dengan bukti tadi, sudah jelas bahwa otak orang Indonesia masih kosong, segar dan baru tentunya walau sudah berpuluh tahun lamanya karena jarang dipakai untuk berpikir. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa otak orang Indonesia lebih mahal, walaupun sudah pernah dipakai masih tetap baru lho!

Itulah alasan mengapa otak orang Indonesia jika diandaikan dijual maka harganya jauh lebih mahal dibandingkan otak milik orang Barat. Mungkin ada yang mengatakan "seharusnya otak orang barat yang mahal karena sudah berisi". Kalau otak sudah bersisi maka sulit untuk dipengaruhi. Jika ada politik uang, orang Baratlah yang paling dihindari. Tidak ada yang mau sogok orang Barat secara politik walaupun ada tapi sangat sedikit. Mereka mayoritas cuek terhadap politik uang karena budaya politik mereka sudah mapan dan selain itu orang Barat rata-rata kaya raya. Jadi untuk apa disogok? Sekali lagi bodoamat 😂

Otak orang Indonesia dibeli dengan biaya sekitar Rp. 100.000 - Rp. 400.000 untuk bisa otaknya dikendalikan si penyogok. Penyogok ini kebanyakan dari orang-orang kaya dan berpengaruh karena jabatannya. Lalu ada apa dengan otak orang Barat? Tidak ada orang yang mau beli, sebab akan mudah melawan dan bahkan bisa menjerumuskan si penyogok ke dalam tahanan. Jadi lebih mahal mana Rp. 100.000 atau Rp. 0? Otak orang Indonesia lebih laku dan banyak peminatnya 😂. Peminatnya ini banyak dari kalangan orang-orang berdasi. Pahamlah arti orang-orang berdasi.

Otak orang Indonesia ini harganya mahal tapi murahan dan tidak berkualitas, serta otak orang Barat murah bahkan tidak ada harganya tapi sebenarnya sok jual mahal karena berkualitas. Mengerti kan?

Oke semuanya, ini hanya sekilas pandangan admin mengenai pola pikir dan kebudayaan orang Indonesia yang lihai dalam kasus suap dalam dunia perpolitikan. Masih banyak pandangan lain dari admin tapi takutnya ditulis disini karena blog ini dikelola oleh akun admin yang asli. Takut diciduk bro 😂. Admin ucapkan terima kasih atas kunjungannya hari ini. Semoga bahagia, dan sampai jumpa.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel